10. AL JABBAR (Dzat Yang Maha Memaksa) Allah Ta'ala akan memaksa hamba-hambaNya untuk menjalani segala ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Dengan kata lain segala sesuatu yang telah ditentukan Allah Ta'ala pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Dengan Asma’ Ar Rahman-Nya Allah Ta'ala telah menetapkan empat ketentuan, yaitu umur, rizki, penghidupan, balak dan nikmat. Allah Ta'ala akan memaksa hamba-hambaNya untuk menjalani keempat ketentuan tersebut dan tidak ada satupun yang bisa menolak atau menghalanginya. Sebagai contohnya masalah ajal (umur). Apabila waktunya telah tiba, maka Allah Ta'ala akan memaksanya dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Surat Ali Imran (3) : 154 154. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata : "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah : "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata : "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah : "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu, keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. Surat An Nisa’ (4) : 78 78. Di mana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah". Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan : "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Memang Allah Ta'ala telah menentukan empat hal dan semua itu pasti akan terjadi serta tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Akan tetapi Allah Ta'ala telah memberikan dua pilihan kepada diri kita yaitu fasik dan taqwa. Apabila memilih taqwa akan mendapat pahala, sedangkan apabila memilih fasik akan mendapat dosa. Dan apabila kita telah terlanjur memilih fasik, maka hendaknya kita bertaubat dan memperbaiki diri. Sedangkan apabila kita telah memilih taqwa, maka hendaknya kita pertahankan dan bersabar. Sebagai contohnya seseorang yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala menjadi PNS. Walau bagaimanapun orang tersebut akan menjadi PNS. Akan tetapi apakah jalan yang dia tempuh memilih kefasikan atau memilih ketaqwaan?. Jika memilih kefasikan dia akan menyuap dan menjadi PNS yang tidak baik. Akan tetapi apabila memilih ketaqwaan dia tidak menyuap dan menjadi PNS yang benar. Begitupun juga dengan ketentuan-ketentuan yang lain, semuanya ada dua pilihan fasik dan taqwa. Laki-laki penzina untuk perempuan penzina, laki beriman untuk perempuan beriman. Ini adalah ketentuan Allah Ta'ala. Ketentuan ini berlaku atas dasar pilihan manusia terlebih dahulu. Tidak mungkin laki-laki beriman dikawinkan dengan perempuan penzina. Begitu juga sebaliknya. Ini membuktikan bahwa ketentuan Allah Ta'ala ada dua tergantung dari pilihan manusia, yaitu fasik atau taqwa. Dan apabila didalam perjalanan rumah tangga salah satu diantaranya berubah, maka Allah Ta'ala akan memisahkannya. Seperti isteri Nabi Luth dan Nabi Nuh serta Asiyah isteri Fir’aun. Nabi Luth dan Nabi Nuh adalah hamba Allah yang sholeh, sedangkan isterinya termasuk orang-orang fasik dan dzolim. Maka Allah Ta'ala memisahkan mereka. Begitu juga Fir’aun adalah orang yang durhaka sedangkan istrinya (Asiyah) adalah orang beriman, maka Allah Ta'ala juga memisahkannya. Orang-orang yang memilih kefasikan akan dipaksa oleh Allah Ta'ala untuk menjalani ketentuan-Nya dengan perangkat-perangkatNya. Begitu juga sebaliknya orang-orang yang memilih ketaqwaan akan dipaksa menjalani ketentuan-Nya dengan perangkat-perangkatNya. Dan semua manusia tidak ada satupun yang bisa menolaknya. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak yang kita ikhlas dalam menerima ketentuan Allah Ta’ala untuk diri kita, dan seberapa banyak yang kita menyalahkan orang lain? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang ikhlas menerima segala apapun yang telah Engkau tentukan bagi kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa apapun yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala berupa empat hal (umur, rizki, penghidupan, balak dan nikmat) pasti akan terjadi dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Mau tidak mau, suka tidak suka, ketentuan Allah Ta'ala pasti akan terjadi. Allah Ta'ala akan memaksa hamba-hambaNya untuk menjalankan ketentuanNya dan tidak ada satupun yang bisa menolaknya. Apa-apa yang ditentukan oleh Allah Ta'ala pasti akan sampai kepada kita dan apa-apa yang tidak ditentukan pasti tidak akan sampai kepada kita. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa didalam hidupnya akan selalu memilih jalan ketaqwaan dan meninggalkan jalan kefasikan. Dengan kata lain ketentuan apapun yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya, dia selalu berusaha untuk memilih jalan ketaqwaan. E. Sisi Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar tidak menyalahkan orang lain atas semua ketentuan yang telah Engkau tetapkan bagi kami, seolah-olah mereka dapat merubah ketentuan Engkau. Karena apapun yang terjadi pada diri kami adalah atas kehendak-Mu, dan apapun yang Engkau tentukan bagi kami, tidak akan pernah salah untuk orang lain. Dan apa-apa yang tidak Engkau tentukan bagi kami, maka tidak akan pernah sampai kepada kami. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal akan berserah diri kepada Allah Ta'ala. Didalam dirinya akan berkata : “Ya Allah, apapun yang terjadi adalah kehendak-Mu. Dan apa-apa yang telah Engkau tentukan untukku adalah pasti yang terbaik”. Orang-orang yang bertawakkal tidak ada keraguan sedikitpun didalam hatinya untuk menjalankan ketaqwaan. Karena segala sesuatu dia gantungkan kepada Allah Ta'ala, sedangkan apa yang akan terjadi biarlah terjadi, yang penting dia telah menjalankan ketaqwaan. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun yang ditentukan Allah Ta'ala bagi dirinya. Karena dia menyadari bahwa dirinya adalah makhluq ciptaan Allah Ta'ala, dan hanya Allah Ta'ala yang mengetahui apa yang terbaik buat dirinya. Apabila ketentuan Allah Ta'ala itu sesuatu yang dia anggap baik, sedikitpun dia tidak menjadi sombong dan merendahkan orang lain. Dan apabila ketentuan Allah Ta'ala itu sesuatu yang dia anggap tidak baik, sedikitpun dia tidak berkeluh kesah dan tidak menyalahkan orang lain, keadaan atau kondisi. Dengan kata lain apabila ketentuan Allah Ta'ala bagi dirinya lebih baik dari orang lain, maka hal itu tidak menjadikan dia sombong. Begitu juga sebaliknya apabila ketentuan Allah Ta'ala bagi dirinya lebih sedikit dari orang lain, maka hal itu tidak menjadikan dia iri, dengki dan hasud. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Jabbar Apabila telah menjadi kholifah, maka ia selalu menerima apapun yang Allah Ta’ala tentukan. Karena ia merasa tidak punya daya upaya sedikitpun untuk menolak segala ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala. Dan terhadap sesama manusia, ia akan selalu berpegang teguh dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala, walaupun banyak halangan dan rintangan yang ia temui. Akan tetapi ia tetap kokoh dalam menjalankan ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala tersebut. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Jabbar Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam memberikan segala sesuatu yang Engkau kehendaki kepada manusia. Dan berilah kami kekuatan untuk dapat menyampaikan apa yang menjadi hak mereka walaupun banyak rintangan dan halangan yang kami temui.